Senin, 06 Juni 2016

Karya Sastra

Puisi SAHABAT :

Puisi Pershabatan 

Tentang Ego
Selalu ada waktu untuk kita
Selalu ada cara untuk kita
Selalu ada harapan untuk kita
Namun…
Adakah waktu untuk teman kita?
Adakah cara agar bisa kembali bersama mereka?
Adakah keinginan kita sejalan dengan pemikiran mereka?
Pasti ada segala saat kita bersama
Pasti ada cerita di dalam canda tawa
Pasti ada sejarah dalam suka dan duka
Tak perlu mengabaikan yang ada di hadapan kita
Tak usah meremehkan yang tak kita punya
Tak perlu iri tentang yang mereka raih
Kita hanya perlu mencipta hal berbeda dari mereka
Kita hanya perlu mengubah dunia dengan persahabatan kita
Untukmu aku ada dan selalu disini
Meski waktu tak lagi bersama dan memihak kita
Meski cerita telah berbeda arah dan tujuan
Tapi kita tetap satu selamanya
Karena kita sahabat selamanya….

Puisi CINTA :

KENANGAN YANG TERBUANG
Ini adalah fragmen cinta kita
Terputus oleh kubangan perbedaan
Karena kau sendiri yang memulai
Kenapa harus aku yang menuntaskan semua ini
Sampai di titik mustahil yang menurutmu akhir?
Dalam peluk kau bilang inilah yang terbaik
Dalam hangat kau bilang maaf
Dalam hati kutahu kau bilang seseorang menanti
Sebelum jemari yang mengait jemariku terlepas
Dan sepatumu berayun menjauhi sepatuku
Setelah kemarin sore kau bilang ini takdir kita
Lenyap
Serpihan-serpihan itu beterbangan bagai kuncup bunga
Dan sebelum aku berhasil meraih satu
Semuanya luruh di antara waktu
Sementara itulah alasanmu bahwa aku bukan seseorang lagi
Itulah segala kenangan kita
Dunia kita berbeda
Di antara pemisah yang nyata
Kendati ini hanya satu dari sekian ribu kisah suram di dunia
Hanya ini kisah yang pernah merantai aku dan dirimu
Cukuplah di sini kau berbagi
Cukuplah di sini kau bersedih
Dan cukuplah di sini kau sebut namaku
Terima kasih telah menjadi malaikat palsu


Pantun Cinta

Menulis buku diakhir Tahun
Berdasarkan sebuah Kayu
Cintaku ibarat Daun
Yang tak akan pernah Layu

Pantun Lucu

Rintik rintik turun Hujan
Masuk kamar sama Teman
Gadis cantik jadi Pujaan
Mau dilamar kok hamil Duluan


Cerita Pendek


Kisah Seorang Penjual Koran


Di ufuk timur, matahari belum tampak. Udara pada pagi hari terasa dingin. Alam pun masih diselimuti embun pagi. Seorang anak mengayuh sepedanya di tengah jalan yang masih lengang. Siapakah gerangan anak itu? Ia adalah seorang penjual Koran, yang bernama Ipiin.

Menjelang pukul lima pagi, ia telah sampai di tempat agen koran dari beberapa penerbit. “Ambil berapa Ipiin?” tanya Bang Ipul. “Biasa saja.”jawab Ipiin. Bang Ipul mengambil sejumlah koran dan majalah yang biasa dibawa Ipiin untuk langganannya. Setelah selesai, ia pun berangkat.

Ia mendatangi pelanggan-pelanggan setianya. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Begitulah pekerjaan Ipiin setiap harinya. Menyampaikan koran kepada para pelanggannya. Semua itu dikerjakannya dengan gembira, ikhlas dan rasa penuh tanggung jawab.
Ketika Ipiin sedang mengacu sepedanya, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah benda. Benda tersebut adalah sebuah bungkusan plastik berwarna hitam. Ipiin jadi gemetaran. Benda apakah itu? Ia ragu-ragu dan merasa ketakutan karena akhir-akhir ini sering terjadi peledakan bom dimana-mana. Ipiin khawatir benda itu adalah bungkusan bom. Namun pada akhirnya, ia mencoba membuka bungkusan tersebut. Tampak di dalam bungkusan itu terdapat sebuah kardus. 

“Wah, apa isinya ini?’’tanyanya dalam hati. Ipiin segera membuka bungkusan dengan hati-hati. Alangkah terkejutnya ia, karena di dalamnya terdapat kalung emas dan perhiasan lainnya. “Wah apa ini?”tanyanya dalam hati. “Milik siapa, ya?” Ipiin membolak-balik cincin dan kalung yang ada di dalam kardus. Ia makin terperanjat lagi karena ada kartu kredit di dalamnya. “Lho,…ini kan milik Pak Edison. Kasihan sekali Pak Edison , rupanya ia telah kecurian.”gumamnya dalam hati.

Apa yang diperkirakan Ipiin itu memamg benar. Rumah Pak Edison telah kemasukan maling tadi malam. Karena pencuri tersebut terburu-buru, bungkusan perhiasan yang telah dikumpulkannya terjatuh. Ipiin dengan segera memberitahukan Pak Edison. Ia menceritakan apa yang terjadi dan ia temukan. Betapa senangnya Pak Edison karena perhiasan milik istrinya telah kembali. Ia sangat bersyukur, perhiasan itu jatuh ke tangan orang yang jujur. 

Sebagai ucapan terima kasihnya, Pak Edison memberikan modal kepada Ipiin untuk membuka kios di rumahnya. Kini Ipiin tidak lagi harus mengayuh sepedanya untuk menjajakan koran. Ia cukup menunggu pembeli datang untuk berbelanja. Sedangkan untuk mengirim koran dan majalah kepada pelanggannya, Ipiin digantikan oleh saudaranya yang kebetulan belum mempunyai pekerjaan. Itulah akhir dari sebuah kejujuran yang akan mendatangkan kebahagiaan di kehidupan kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar